Kenali Bahaya Gigi Impaksi dan Solusi Perawatannya

Apa itu Impaksi Gigi?

Istilah impaksi berasal dari bahasa latin “impactusâ€. Penggunaan istilah ini mengacu pada kegagalan suatu organ atau struktur dalam mencapai posisi normalnya karena kondisi mekanis yang tidak normal. Impaksi gigi adalah gigi yang tertanam di dalam gusi karena tidak dapat tumbuh.

Impaksi gigi bisa terjadi sebagian (terjadi jika ada bagian gigi yang tampak saat pemeriksaan langsung, tetapi fungsi dan posisinya tidak normal) maupun sepenuhnya (terjadi jika seluruh bagian gigi tertutup tulang, jaringan lunak, atau keduanya). 

Menurut American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMFS) dalam buku elektroniknya yang berjudul Wisdom Teeth menyatakan bahwa 9 dari 10 orang memiliki setidaknya satu gigi impaksi (Ebook Wisdom Teeth, AAOMFS, 2021). Kondisi gigi impaksi merupakan kondisi yang lazim terjadi, yaitu berkisar 0,8-3,6% dari total populasi secara umum. Impaksi gigi molar tiga memiliki prevalensi terbesar, yaitu antara 16,7% hingga 68,6% dan diperkirakan sekitar 65% populasi manusia di dunia mempunyai setidaknya satu gigi molar impaksi. Gigi yang paling sering mengalami impaksi adalah gigi bungsu atau gigi geraham ketiga rahang bawah (biasanya tumbuh di usia 17–21 tahun) dan gigi taring rahang atas.

Penyebab Impaksi Gigi

Impaksi gigi bisa terjadi ketika jalur tumbuhnya gigi terhalang oleh gigi di dekatnya, tulang, atau jaringan lunak di sekitarnya. Hal ini dapat menyebabkan salah satu atau beberapa gigi permanen tidak bisa tumbuh dengan sempurna. Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan impaksi gigi adalah:

1.  Faktor lokal
  • Ruangan yang tidak cukup untuk pertumbuhan gigi secara normal.
  • Trauma pada benih gigi sehingga benih gigi terdorong menjadi lebih dalam.
  • Posisi tidak normal dari gigi bungsu
  • Jarak benih gigi ke tempat pertumbuhan gigi jauh
  • Infeksi pada benih gigi.
  • Adanya gigi berlebih yang tumbuh terlebih dahulu.
  • Penyatuan antara permukaan akar dan tulang gigi bungsu yang tidak normal.
  • Gigi sulung yang tidak tanggal yang menyebabkan impaksi gigi tetap di bawahnya
  • iGusi yang tebal sehingga sulit ditembus oleh gigi
  • Pergerakan pertumbuhan gigi tertahan karena posisi yang salah dan tekanan dari gigi samping
  • Tumor yang menggeser kedudukan benih gigi
  • Kista pertumbuhan gigi yang berkembang pada benih gigi yang masih dalam tahap  pembentukan sering kali mencegah gigi erupsi
2. Faktor sistemik
  • Keturunan
  • Kelainan kelenjar endokrin
  • Malnutrisi

Permasalahan Klinis Gigi Impaksi

  • Penyakit periodontal pada gigi tetangga
  • Gigi berlubang
  • Peradangan pada gusi di sekitar gigi bungsu
  • Hilangnya jaringan keras dan lunak akar gigi yang berdekatan
  • Gangguan pemasangan gigi tiruan sebagian atau penuh
  • Tumor
  • Nyeri yang tidak dapat dijelaskan
  • Nyeri kepala
  • Meningkatkan risiko terjadinya fraktur rahang
  • Masalah pada perawatan ortodontik
  • nfeksi dan abses
  • Rinosinusitis odontogenik, yaitu masuknya bakteri dari infeksi gigi.

Gejala Impaksi Gigi

Gigi yang mengalami impaksi tidak selalu memunculkan gejala. Namun, ketika gigi bungsu yang mengalami impaksi terinfeksi, merusak gigi lain, atau menyebabkan masalah gigi lainnya, kemungkinan bisa menimbulkan gejala yang dapat hilang timbul dalam beberapa minggu dan bulan. Adapun beberapa gejala tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Bengkak gusi
  • Kemerahan pada gusi
  • Perdarahan gusi.
  • Bau mulut
  • Kesulitan membuka mulut.
  • Nyeri rahang saat membuka dan menutup mulut

Diagnosis Impaksi Gigi

Diagnosis dapat dimulai dengan proses anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui gejala pasien, kemudian dipastikan melalui pemeriksaan gigi oleh dokter gigi. Kemudian dokter gigi akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang tambahan, meliputi:

Foto rontgen panoramik.

    Pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat gambaran struktur gigi, tulang, dan rahang secara lebih jelas. Rontgen adalah pemeriksaan standar yang dilakukan untuk mengetahui secara presisi lokasi dari gigi impaksi, klasifikasi gigi impaksi, pengukuran kedalaman gigi, dan kondisi lain yang menyertai di sekitar gigi impaksi. 

    CBCT (cone beam computed tomography).

    Teknik pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran akurat dalam bentuk tiga dimensi mengenai struktur jaringan keras gigi dan sekitarnya. Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan ini jika dicurigai adanya masalah pada posisi saraf dalam impaksi gigi.

    Komplikasi Impaksi Gigi

    Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, gigi yang mengalami impaksi dapat menyebabkan penumpukan plak di gusi, sehingga memicu peradangan dan pembengkakan gusi. Selain peradangan dan pembengkakan, adapun komplikasi lain yang bisa ditimbulkan oleh impaksi gigi adalah sebagai berikut:

    • Kerusakan pada gigi lain.
    • Infeksi.
    • Maloklusi (gigi tidak sejajar).
    • Abses gigi di area infeksi.
    • Karies pada gigi didekatnya.
    • Nyeri kepala.
    • Kista yang dapat merusak tulang rahang, gigi, dan saraf.

    Dibandingkan dengan gigi lainnya, gigi bungsu lebih rentan mengalami gigi berlubang dan lebih sulit untuk dibersihkan. Hal ini dapat meningkatkan risiko pembusukan dan penyakit gusi, seperti perikoronitis (peradangan pada gusi di sekitar gigi bungsu yang sedang tumbuh).

    Baca Juga : Maluklosi Gigi

    Cara Mengatasi Impaksi Gigi

    Impaksi gigi yang tidak menimbulkan gejala biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus, namun dokter tetap menyarankan untuk melakukan pemeriksaan gigi secara rutin. Namun, jika pasien mengalami keluhan berupa nyeri, dokter gigi akan memberikan obat pereda nyeri.

    Di samping itu, dokter gigi akan merekomendasikan untuk dilakukan tindakan pencabutan gigi bungsu dengan pemberian obat bius lokal sebelumnya. 

    Pasien biasanya memerlukan waktu 7–10 hari hingga pulih sepenuhnya dari efek setelah pencabutan gigi bungsu. Meskipun demikian, pasien masih tetap bisa melakukan aktivitas harian dengan normal. Pasca tindakan pencabutan gigi bungsu, dokter gigi juga akan meresepkan obat antibiotik, obat pereda nyeri, dan obat radang.

    Cara Mencegah Impaksi GigiÂ

    Pada dasarnya, tidak ada cara spesifik yang bisa dilakukan untuk mencegah impaksi gigi, mengingat bahwa kondisi ini sering kali dipicu oleh faktor genetik. Namun, langkah pencegahan bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya komplikasi serius. Beberapa cara tersebut meliputi:

    • Menjaga kebersihan gigi, dengan cara menggosok gigi dua kali sehari.
    • Menggunakan benang gigi untuk membersihkan sela-sela gigi.
    • Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin, setidaknya 6 bulan sekali.

    Apabila mengalami keluhan maupun permasalahan pada gigi, segera konsultasikan hal tersebut dengan dokter gigi.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *